Sabtu, 07 November 2015

Jejak 10 Tahun

Rasanya baru kemarin duduk ngemper di tangga Kementerian Koordinator Perekonomian, menggenggam notes dan tape recorder. Menunggu Bu SriMul dan Pak Bud keluar lift di ujung ruangan, lalu mendadak lomba lari dengan puluhan teman jurnalis, berebut posisi paling strategis. Demi apa berlarian?? Yang paling sering, tentu saja demi bisa bertanya tentang sejumlah isu ekonomi terhits saat itu. Tapi kadang-kadang juga hanya pingin liat anting atau lipstik apa yang dipakai Bu SriMul hari itu. Atau malah kadang cuma kaget ikut-ikutan lari aja, padahal gak tahu mau nanya apa, karena (misalnya) gak ada isu seksi yang mesti ditanyakan. Ya pokoknya yang penting lari dulu lah, urusan nanya belakangan. hehehe...

Note: aktivitas wartawan bertanya ke narasumber, dalam kesempatan tidak resmi (bukan dalam rangka konferensi pers), sering disebut doorstep. Banyak teman menyebut doorstop, karena mungkin ada kata "stop" atau "mencegat" narasumber. Tapi percayalah, setelah 7 tahun jadi jurnalis, saya pun akhirnya tau, kata yang benar adalah doorstep. hihihi...   

Eniweii..., Aktivitas penting, penting banget dan ngga penting seperti itu, kira-kira dilakoni sekitar hampir 7 tahun, mulai tahun 2006. Satu tahun saat belajar bekerja di koran lokal di daerah, satu tahun di Koran Sindo, dan 5 tahun saat bergabung di tvOne. Ya.. memang sih dalam waktu 6 tahun itu, saya tidak hanya nongkrongin Kementerian Perekonomian, tapi juga kementerian bidang ekonomi lain seperti Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, Perdagangan, ESDM, Perindustrian, BEI, dll. Tapi, harus diakui, tempat paling nyaman buat nongkrong tetep di Kemenko Perekonomian. Walaupun pers room nya di basement, pengap, gak ada wifi, tapi paling homey buat ngetik, ngopi, dan kadang numpang bobok siang. Wakakaka..

Eh gini gini, sebenernya.. alasan yang paling masuk akal sih sebenernya adalah di Kemenko Perekonomian inilah, pusat semua masalah ekonomi dibahas. Yah namanya juga Kementerian Koordinator, jadilah hampir setiap hari, banyak menteri-menteri ekonomi seliweran di gedung ini. Mulai dari ngomongin isu-isu berat dan ngawang-ngawang seperti APBN defisit lah, rupiah merosot lah, sampai IHSG jeblok. Atau soal jalan rusak, izin tambang dan kontrak migas, hingga isu-isu berkaitan perut rakyat seperti BBM naik, beras mahal, bawang dan cabai langka, dan lain-lain. 

Semua menteri terkait isu-isu itu, tentu saja mesti melapor ke Menteri koordinator. Maka di gedung itulah kesempatan doorstep menjadi terbuka luas. Bagi jurnalis yang ingin bekerja efektif dan efisien (dibaca: males, hihi), nge-pos di Kemenko Perekonomian adalah solusinya. Hahahaa...

Saking banyaknya isu yang mesti dicover di Kemenko Perekonomian, maka jurnalis yang terjun di bidang ekonomi harus punya bekal wawasan luas lhoh. Terutama yang meng-cover ekonomi makro, yang sarat dengan persoalan tidak kasat mata, disertai hitungan angka-angka raksasa. Misalnya soal angka inflasi 6,7 persen, atau pertumbuhan ekonomi 5,4%. Angka itu harus di-bumi-kan agar pembaca/penonton tau, apa dampak dari besar kecilnya angka-angka itu. 
Atau misalnya lagi, soal defisit APBN, bagaimana pemerintah menutup utang dengan merilis obligasi, untuk apa saja peruntukkan utang negara. Itu semua melibatkan angka-angka ribuan triliun. Menceritakan duit yang bentuknya ngga pernah dilihat di dunia nyata, namun tetap harus dikemas dan disajikan dalam berita yang mudah dipahami, dimengerti. 

Maka terbayang, bagaimana runyam-nya persoalan menjadi jurnalis ekonomi. Maka pemandangan jurnalis ekonomi (terutama wartawan cetak), yang ngetik naskah berita di pojokan sambil kening berkerut, mulut terkatup agak monyong, telinga disumpal earphone yang memutar rekaman pernyataan narasumber, bisa ditemukan dengan mudah, saat menjelang deadline surat kabar. Pokoknya salut lah sama teman-teman cetak yang nge-pos di ekonomi. Luar biasaaa...

Untunglah saya ini jurnalis ekonomi dari TV. Tidak perlu menulis berhalaman-halaman, cukup 4-6 paragraf singkat, ditambah soundbite narasumber. Selesai. Tantangan terbesar anak TV adalah lebih dan lebih, dan lebih lagi membumikan persoalan rumit ekonomi, agar penonton TV -yang karakternya adalah menyerap informasi sambil lalu- bisa memahami informasi dengan utuh. Berita TV harus tetap menarik, informatif, penting, ringkas dan dekat dengan keseharian. 

Dengan berbagai tuntutan rumit itulah, maka ngga heran, kalau desk ekonomi itu kerap ditakuti dan dihindari oleh banyak jurnalis. Biasanya, jurnalis yang udah kecemplung atau dicemplungin di bidang ekonomi, relatif aman dari rolling rutin tahunan. Mereka akan dipertahankan di bidang ekonomi selama bertahun-tahun, malah ada yang puluhan tahun. 

Bos-bos di media akan memilih jalan aman seperti itu, karena untuk mendidik anak baru agar mahir persoalan ekonomi, akan butuh waktu lebih lama, ketimbang nyemplungin anak baru ke desk nasional, metropolitan, atau hukum. 

Beberapa media cetak ekonomi malah membuat spesialis tertentu misalnya: reporter khusus bursa, khusus perbankan, khusus energi dan khusus sektor perdagangan atau industri. Dan tentu saja peng-kategorian seperti itu jelas membuat mereka sangat jago di bidangnya. Dan mereka inilah tempat bertanya paling yahud, bagi jurnalis TV macam aku, yang ngga mengenal spesialisasi per bidang. Pokoknya semua sektor ekonomi dipantengin dah.. hahaha...

Eh tapi nih ya, meski menghadapi rumitnya isu dan menulis berita, jurnalis ekonomi dikasih kompensasi berupa kenyamanan peliputan. Yaitu gedung nyaman, tempat ber-ac, dan makanan gratis. Liputan desk ekonomi kebanyakan berada di dalam gedung kementerian yang ber-ac, terkadang di seminar yang digelar di hotel-hotel, atau rumah makan tertentu yang disewa untuk menggelar konferensi pers. Alhamdulillah banget dong yaa... 

Anak desk ekonomi jarang-jarang diminta liputan banjir, atau nongkrong di samping kamar jenazah RSCM, nungguin mayat laka atau korban pembunuhan. Anak desk ekonomi juga tidak perlu berjibaku adu fisik sesama jurnalis demi ambil gambar para pejabat korupsi yang diperiksa KPK, atau dijadikan tersangka. 

Maka selentingan bahwa jurnalis ekonomi itu manja, wajar kerap terdengar. Saya pribadi tidak pernah merasa terganggu, atau merasa perlu membuat klarifikasi. Toh, bagi saya, jurnalis di desk apapun, sama-sama bisa memberikan informasi kepada masyarakat. Yang terpenting bukan desk-nya, tapi bagaimana jurnalis menjalankan tugas, dengan penuh tanggungjawab, kepada negara, masyarakat, dan juga pemilik media-nya. 

Tujuh tahun liputan di lapangan. Baru pada tahun 2013 diminta menjadi associate produser di tvOne. Beberapa teman bilang, itu kelamaan, karena biasanya 5 tahun sudah ditarik membantu redaksional di dalam. Atau artinya menjadi redaktur (bagi media cetak), atau produser (bagi media tv). Iya juga sih, beberapa temanku memang sudah lebih dini menjadi pejabat di kantornya masing-masing. Tapi buatku, lebih lama berada di lapangan, justru memberi kesempatan lebih lama untuk mengasah kemampuan jurnalistik. Pemilihan isu yang baik, wawancara yang komprehensif, analisa mendalam, dan tulisan yang bagus, adalah 80% keberhasilan produk jurnalistik. Redaktur atau produser hanya menambah 20% dari dalam kantor, agar lebih layak dan cantik saat ditampilkan. 

Menurutku lho ya.. kemampuan produser televisi, kerap kali menurun dalam hal teknik wawancara dengan narasumber dan teknik live report, ketimbang saat masih aktif liputan. Namun sebaliknya, skill lainnya banyak bertambah, seperti kemampuan memutuskan judgement berita, mempercantik naskah, merangkai alur berita, dan skill teknis seperti penguasaan software broadcasting. 

Kemampuan sebagai produser televisi, saya asah selama 3 tahun terakhir, di tvOne, Bloomberg TV Indonesia dan Kompas TV. Jejak ku sudah ada di 3 televisi rupanya. Pindah dari tvOne, karena "kepincut" dengan pesona Bloomberg TV Indonesia. TV khusus ekonomi bisnis, berlisensi asing, dengan standard broadcast level internasional, dan standard gaji jauh diatas rata-rata tv di Indonesia. Tim redaksi yang terdiri dari orang-orang pilihan, berintegritas tinggi, membuat layar BTVI sangat rapi, dengan kualitas content yang mumpuni. Sayangnya, TV ini tidak dimiliki oleh pemilik modal yang kuat. Pemiliknya adalah pengusaha yang berpikir untuk mencari untung cepat, dan tidak siap menjadi petarung di industri media. 

Setelah 3 tahun beroperasi, BTVI mati suri, hingga akhirnya mati beneran di akhir Agustus 2015. 190 orang di PHK. Termasuk saya yang baru bergabung 1 tahun 1 bulan.

Meski di PHK, lulusan BTVI itu seperti punya sertifikat ampuh. 90% cepat terserap di berbagai media di Indonesia. Terbanyak di CNN Indonesia yang baru berdiri, banyak juga di grup MNC, dan beberapa di Kompas TV, termasuk saya.  

Memilih Kompas TV, karena TV ini menawarkan sesuatu yang jauh berbeda dari jalur saya selama ini (bidang ekonomi). Kompas TV menawarkan saya untuk bergabung dengan Kompas Petang, program buletin prime time. Seperti program prime time lainnya (Kabar Petang, dan Metro Hari Ini), maka isu utama pastinya seputar politik, hukum, keamanan, dan isu nasional lainnya. Isu ekonomi dan bisnis hanya 5%, itupun tidak setiap hari. Berbeda dengan makanan sehari-hari saya selama 9 tahun terakhir, yang 90% nya adalah isu ekonomi. 

Entah karena saya agak kapok karena habis di PHK sama TV ekonomi, atau karena saya jenuh setelah 9 tahun berada di jalur sama, maka tawaran Kompas TV justru menjadi sangat menarik. Sangat tidak bisa dilewatkan. Maka dengan kesadaran penuh saya-pun bergabung di Kompas Petang. Dan benar rupanya! Hal baru selalu memacu adrenalin.